Bagi saya, browser adalah sebuah perahu. Perahu yang kita gunakan untuk mengarungi luasnya internet. Bukan sekedar untuk tumpangan, tapi juga sebagai alat pelindung dari lautan luas yang ganas.
Oleh karena itu, saya tidak bisa asal pilih browser yang akan saya pakai untuk berlayar. Sebelum mulai berlayar, saya harus memastikan dahulu secepat apa, senyaman apa, dan tentunya seaman apa perahu yang saya pakai untuk mengarungi lautan. Kenapa? Karena lautan internet yang luas ini begitu ganas, liar dan tidak ada kata ampun.
Firefox, Perahu Pertama Saya

Saya mengenal internet pertama kali antara tahun 2008-2009. Yang pasti, saat itu saya masih di Sekolah Dasar. Waktu itu, Speedy lagi gencar-gencarnya mempromosikan layanan internet mereka. Tidak lama setelah pembagian rapor kenaikan kelas, keluarga saya mulai berlangganan internet.
Dari sinilah saya mulai mengenal Internet. Lautan luas penuh informasi yang membuat saya terus penasaran. Dan, browser pertama yang saya kenal adalah Mozilla Firefox. Saat itu, browser ini sangat keren, selain super cepat, browser ini juga bisa dikustomisasi tampilannya dengan berbagai tema dan skin.
Dengan si rubah oranye ini, saya belajar searching pakai Google, bikin Email, daftar Facebook, download file hingga bikin blog pertama saya di Blogger.
Perahu Baru Bernama Chrome

Selang beberapa tahun sejak kenal dengan Internet, Google Chrome sebagai browser baru yang lebih modern semakin popular. Makin banyak orang di Facebook yang berbagi pengalaman mereka dengan Chrome. Meski begitu, saya tidak langsung berganti browser, saya masih stay dengan Firefox karena nyaman dengan berbagai Extension-nya.
Saya baru mencoba beralih ke Google Chrome saat banner “This site runs better in Chrome” mulai sering muncul. Ini adalah masa dimana Chrome berhasil merebut mayoritas market share dari Internet Explorer dan Firefox. Karena Chrome dominan, maka, para webmaster ini jadi lebih memprioritaskan pengembangan website untuk engine Blink milik Chrome.
Dari sinilah saya mulai melihat Browser sebagai suatu yang lebih serius. Bukan sekadar alat untuk berlayar saja, tapi sebagai perahu. Saya mulai memperhatikan soal Engine yang dipakai, dukungan Ekstensi, fitur Privasi dan juga Keamanan.
Mengenal Banyak Perahu Baru

Peralihan saya dari Firefox ke Chrome membuka mata saya ke dunia browser. Saya mulai tertarik untuk mencoba berbagai browser lain. Microsoft Edge, Opera, Vivaldi, Brave, Waterfox, Librewolf, Zen Broser dan berbagai browser lain mulai saya coba. Berbagai browser tersebut menawarkan banyak fitur yang menarik. Seperti beban sistem yang lebih ringan, vertical/split/ group tab, fitur esensial (notes, email, feed, VPN), pemblokir iklan , hingga perlindungan privasi.
Setelah mulai mempelajari dan mencoba berbagai macam browser, saya menemukan fakta yang menarik. Dari banyaknya browser yang bisa kita pakai, ternyata semua itu tetap berbasis ke 2 engine utama. Yaitu antara Blink dari Chromium atau Gecko dari Firefox. Jadi, browser seperti Brave dan Zen dibangun dari Chromium atau Firefox yang lalu dimodifikasi sedemikian rupa. Beberapa bagiannya dihapus atau digantikan, lalu ditambahkan dengan berbagai fitur baru.
Menentukan Perahu yang Nyaman

Setelah cukup dalam menyelami dunia browser, akhirnya saya mulai merumuskan kebutuhan. Fitur apa saja yang saya harapkan untuk ada di sebuah browser? Browser seperti apa yang ingin saya pakai?
Kurang lebih, berikut poin-poin yang penting bagi saya :
- Perlindungan Privasi (Block Tracker, Cookies, Cryptominer, Fingerprinting, dsb)
- Keamanan Data (Deteksi File dan Koneksi Berbahaya)
- Sinkronisasi Riwayat Browsing
- Dukungan Ekstensi dan AdBlocker
- Vertical Tab, Group Tab dan Profile
- Tampian simple dan minimalis
Dari beberapa poin diatas, pilihan saya mengerucut secara spesifik ke browser berbasis Firefox. Ini sudah pasti karena mayoritas browser berbasis Chromium terbatasi oleh regulasi Manifest V3 yang membuat Pemblokiran Iklan jadi tidak efektif.
Dan, browser yang menjadi pilihan saya adalah Zen Browser. Browser minimalis dengan Tampilan yang cakep banget! Tidak banyak menu dan tombol, cukup yang penting-penting saja yang ditampilkan.
Zen Browser, Perahu yang Saya Pilih

Zen, sebuah browser open-surce minimalis yang berfokus pada privasi dan pengalaman berlayar di internet. Hadir dengan slogan “welcome to calmer internet” yang menurut saya sangat bold. Mereka menawarkan pengalaman berselancar yang nyaman dengan browser mereka yang cantik, penuh dengan fitur dan privat.
Saat pertama kali membuka Zen Browser, saya sangat terkesan dengan desian User Interface-nya yang simpel, minimalis dan sangat konsisten. Penataan menu-nya juga rapi, ringkas dan mudah dimengerti. Meski 180 derajat berbeda dari Firefox, tapi Zen tetap memiliki fitur kustomisasi yang mendalam. Mulai dari tema, sidebar dan tab, tata letak, tipe dan ukuran font, hingga berbagai shortcut keyboard.
Selain sudah memenuhi persayatan wajib yang sudah saya list diatas, Zen Browser ini juga punya banyak fitur yang tidak kalah powerful. Berikut beberapa fitur keren yang saya rasa perlu untuk saya highlight :
A. Workspace

Workspace adalah fitur yang akan memisahkan berbagai tab yang kita buka. Fitur ini mempermudah kita dalam memisahkan berbagai tab yang kita buka sesuai kebutuhan. Fitur ini saya pakai untuk memisahkan tab pekerjaan saya dari tab pribadi saya yang isinya selalu random.
Saat jam kerja, saya selalu memembuka tab WhatsApp dan YouTube di Workspace Pribadi yang jalan di latar belakang. Lalu, saya beralih ke Workspace Kerja yang berisi berbagai tab kerjaan seperti Dashboard Website, Seller Center, WhatsApp Bisnis, dan Email.
B. Essentials

Essentials Tab, ini adalah fitur yang sangat inovatif dari Zen Browser. Essentials ini akan memisahkan tab yang kita pilih menjadi Global Tab yang terpisah dari Worksapce. Sangat powerful untuk memisahkan tab yang sering bolak-balik kita akses seperti Email atau WhatsApp.
Dengan fitur ini, saya bisa kembali ke tab penting seperti Email atau WhatsApp dengan cepat tanpa perlu beralih workspace terlebih dahulu.
C. Glance

Glance adalah fitur inovatif lain yang juga sangat powerful dari Zen Browser. Glance ini memungkinkan kita untuk mengintip halaman isi dari link yang kita klik tanpa perlu membuka tab baru. Ini sangat berguna saat perlu membaca halaman dengan cepat seperti Wiki, Profil, FAQ, Syarat & Ketentuan dan semacamnya.
Fitur ini sering saya pakai untuk membaca wiki, referensi dan mencetak PDF. Cukup klik linknya sambil menahan tombol ALT, halaman akan muncul dalam bentuk Popup Glance, lalu bisa langsung klik Print dan kembali ke halaman sebelumnya.
Fitur sederhana yang bikin tab di browser kita tetap rapi dan ringkas. Cukup halaman-halaman yang penting saja yang bertengger di tab browser.
D. Mini Player

Sebuah mini player yang ada di sidebar yang bisa kita gunakan untuk mengontrol konten audio ataupun video yang sedang berputar di browser. Ini sangat memudahkan kita dalam mengontrol konten yang sedang kita dengarkan tanpa perlu berpindah tab. Dari pengalaman saya, fitur ini sangat berguna dan bisa sinkron dengan konten yang sedang kita putar.
Konten VOD dan streaming seperti Video YouTube dan lagu dari Spotify bisa terdeteksi dan dapat kita kendalikan dari mini player. Tidak hanya kendali seperti Play dan Pause saja, kita juga bisa melihat judul konten, hingga mengeser durasi secara langsung lewat mini player ini.
E. Compact Mode

Fitur sederhana untuk menyembunyikan semua menu browser. Memperluas jendela utama sehingga kita dapat lebih fokus dalam membaca dan menavigasi halaman situs yang sedang kita akses. Tidak semaksimal Full Screen Mode (F11), Compact Mode sudah cukup untuk membawa saya fokus dengan apa yang sedang saya kerjakan.
F. Zen Mods

Zen Mods adalah fitur dari Zen Browser yang memungkinkan kita membuat dan memasang berbagai plugin modifikasi yang dibuat oleh sesama pengguna Zen Browser. Modifikasi ini dapat mengubah tema, desain tampilan, animasi, hingga penambahan fitur yang bikin pengalaman berselancar semakin personal dan menyenangkan.
Berbagai modifikasi ini bisa kita unduh secara langsung melalui halaman resmi di situs Zen Browser berikut : https://zen-browser.app/mods/
Penutup
Dari pengalaman ini, saya jadi paham bahwa mengetahui kebutuan dan preferensi diri sendiri itu sangat berguna. Dengan mengetahui hal ini, saya jadi lebih cepat dan lebih mudah dalam mencari, mempelajari dan mengambil keputusan. Memang ada yang dikorbankan, seperti kompabilitas dengan beberapa situs, tapi saya rasa ini tetap worth it. Karena privasi, kenyamanan dan workflow harian saya jauh lebih penting.

