Kekecewaan Saya Sebagai Pengguna Windows

Saya Adalah Pengguna Windows Sejak Lahir

Windows sudah menjadi sistem operasi paling nyaman bagi saya. Saat kali pertama saya belajar Komputer, saya dikenalkan dengan Windows. Dan, sejak saat itulah saya selalu pakai Windows. Berawal dari Windows XP, ke Windows 7, 8, 8.1, 10 hingga sekarang, Windows 11.

Bagi saya pribadi, sistem operasi lain seperti MacOS dan Android terasa terlalu kaku dan tertutup. Meski Android bisa di-sideload dan install aplikasi dari luar, tapi itu tetap tidak sebebas Windows. Hingga saat artikel ini saya ketik, komunikasi, kerja, belajar, nonton film sampai bermain game masih saya lakukan di PC Windows.

Lalu, ada apa dengan Windows?

Semakin kesini, Microsoft semakin rajin memberi saya alasan untuk meninggalkan Windows. Sistem operasi Linux semakin menarik untuk saya eksplorasi. Hal ini bermula saat Microsoft pertama kali memperkenalkan asisten baru pengganti Cortana, yaitu Copilot. Kenapa?

  • Setelah kegagalan Cortana, Copilot menjadi fitur FOMO dari Microsoft dalam mengejar tren AI demi relevansi. Bukan sebuah Inovasi seperti Cortana dulu.
  • Copilot secara terang-terangan dipaksakan untuk masuk dan otomatis aktif di Windows dan aplikasi buatan Microsoft. Bahkan sampai ke dalam Notepad.

Penyakit Microsoft

A. Pengembangan yang Setengah-Setengah

Sebagai pengguna sistem operasi Windows yang suka utak atik, saya mengenal Microsoft sebagai perusahaan yang sering merilis produk setengah matang ke publik. Nggak cuma itu, mereka juga sering setengah-setengah dalam mengembangkan produknya. Satu contoh yang paling terlihat adalah tampilan Control Panel, Disk Management, Properties dan utilitas lain yang nggak ada perubahan dari zaman Windows Vista.

Games for Windows, Universal Windows Platform (UWP), Cortana, Microsoft Store dan Continumm adalah beberapa proyek lain Microsoft yang gagal karena dikerjakan setengah-setengah. Padahal semua ini sangat inovatif dan menarik bagi pengguna loyal seperti saya. Sayangnya, mereka tidak pernah serius.

Meski begitu, ada beberapa proyek yang akhirnya “selamat” atau berevolusi. Sehingga inovasi tersebut kini menjadi fitur beneran di Windows. Seperti Games for Windows yang digantikan jadi Xbox App, Cortana digantikan Copilot, dan Microsoft Store yang isinya bukan lagi aplikasi UWP tapi juga aplikasi .exe / .msi dan web apps (PWA).

B. Kegagalan Bertubi-Tubi

Windows 8 hadir dengan mengadaptasi touchscreen. Dengan itu pula Microsoft berusaha mempopularkan Laptop Touchscreen. Sayangnya ini gagal total karena teknologi Laptop Detachable dan 2-in-1 yang rumit dan biaya produksinya terlalu mahal. Sehingga harga jualnya dipasaran tidak terjangkau oleh mayoritas pengguna Windows.

Merasa gagal di pasar Desktop, Microsoft beralih fokus ke Windows Phone, mereka mencoba masuk ke pasar Smartphone yang lagi populer. Dengan harapan pengguna Windows akan menggunakan Windows Phone yang sama-sama menggunakan Windows. Sayangnya proyek ini juga gagal karena mereka masuk di pasar smartphone saat Android dan iPhone sudah merajai pasar. Microsoft terlalu lambat dalam mengembangkan ekosistem aplikasi di Windows Phone, sehingga banyak aplikasi populer yang tidak tersedia disana.

C. Cara Recovery yang Buruk

Gagalnya Windows 8 dan Windows Phone memaksa Microsoft mencari inovasi baru dengan cepat. Cloud dan AI menjadi pilihan mereka. Memanfaatkan Windows dan aplikasi Office mereka yang popular, Microsoft menarik semua penggunaanya untuk masuk ke ekosistem baru mereka, Microsoft 365 + Copilot. Kabar ini diliput oleh The Verge beserta berbagai penolakan dari pengguna Windows dalam artikel yang berjudul : As Windows turns 40, Microsoft faces an AI backlash.

Jujur saja, ini adalah hal yang sangat menyebalkan bagi saya. Layanan Cloud yang ada di Microsoft 365 (Office 365, OneDrive, Teams, dkk) itu bukan layanan untuk semua orang. Layanan ini lebih ditujukan untuk Perkantoran dan Industri Kreatif yang kolaboratif. Untuk pengguna pribadi yang masih single fighter seperti saya, fitur itu tidak terlalu terpakai. Idealnya, fitur kantoran semacam ini tetap menjadi opsional dan hanya ditawarkan lewat Microsoft Store.

Dari Sistem Operasi ke Ekosistem Cloud dan AI

Microsoft mulai terang-terangan menawarkan layanan Cloud mereka di masa Windows 10. Dimulai dengan menawarkan login Microsoft Account, lalu menawarkan layanan OneDrive hingga promo langganan Office 365. Meskipun sudah kita tolak, aplikasi OneDrive dan Office 365 akan tetap pre-install dan otomatis berjalan di PC Windows kita. Integrasi semacam ini membuat Windows semakin berat dan mengganggu aktivitas komputasi kita.

Hal ini semakin parah ketika Windows 11 diperkenalkan. Microsoft Account menjadi Syarat Wajib untuk instalasi Windows 11. Layanan OneDrive yang sudah terintegrasi ke sistem sejak Windows 10 semakin seamless dan selalu berjalan di background. Ditambah lagi dengan berbagai telemetry dan AI Copilot yang berjalan di background membuat PC kita semakin boros RAM, bahkan ketika posisi idle. Di versi sekarang, Windows 11 yang jalan idle setelah booting sudah memakan sekitar 4GB dari kapasitas RAM dari PC kita.

Semua ini akan sangat terasa ketika kita Browsing, aktivitas yang sudah pasti kita lakukan setiap hari. Sekarang ini, 1 tab browser bisa memakan ruang di RAM antara 400MB sampai 600MB. Belum lagi kalau kita Streaming Video atau Lagu sembari bekerja pakai Web App seperti WhatsApp Web, Google Docs dan Canva. Penggunaan browser dengan pola seperti ini bisa menghabiskan 3 sampai 4GB dari kapasitas RAM.

Konklusi

Bagi saya, Microsoft yang sekarang kita kenal memang sudah meninggalkan Windows sebagai sebuah Sistem Operasi. Sekarang ini, Windows sudah menjadi bagian utama dari Ekosistem Cloud dan AI dari Microsoft. Windows 11 akan semakin melekat dengan ekosistem besar nan ambisius itu. Buktinya? Integrasi OneDrive dan Copilot kedalam inti dari Windows 11. Dan, ditambah lagi dengan pengembangan Copilot+ PC yang semakin masif, memaksa Brand seperti Lenovo, ASUS, dkk untuk memproduksi PC yang sesuai dengan persyaratan dari Microsoft.

Kalau dilihat dari luar, memang masih terlihat seperti inovasi besar yang membawa kita ke modernisasi. Tapi, arah yang dituju oleh Microsoft ini membawa dampak yang serius. Mulai dari kebutuhan teknis komputer (CPU, GPU, RAM dan Memory) yang terus meningkat. Hingga meningkatnya ketergantungan kita terhadap layanan AI.

Sayangnya, mayoritas AI yang kita pakai sekarang, seperti Gemini, ChatGPT dan Copilot masih bergantung ke Server, belum bisa jalan lokal di perangkat yang kita pakai. Sehingga, kebutuhan Server untuk AI kedepannya akan semakin besar dari tahun ke tahun. Setidaknya hingga akhirnya ada teknologi yang cukup powerful untuk menjalankan asisten AI secara lokal / on-device.

FYI, sebuah Server atau Pusat Data memerlukan luas tanah yang tidak main-main. Selain itu, listrik yang digunakan juga sangat besar karena server ini akan terus berjalan 24/7.

Sebagai contoh, Server AI milik Meta (Facebook) dapat memakan listrik 2 kali lebih besar daripada pemakaian listrik di kota besar Amerika Serikat dalam 1 Tahun menurut Lincoln Institute of Land Policy.

Belum lagi penggunaan air skala besar yang digunakan untuk mendinginkan server besar tersebut. Tentunya hal ini dapat merusak kondisi alam sekitar dalam jangka panjang.

Arah perkembangan industri AI populer terasa seperti menuju ke arah yang salah. Sangat relevan dengan satu tweet yang pernah saya baca di Twitter.

Karena berbagai keputusan dari Microsoft yang semakin menggerus kepercayaan saya terhadap mereka, akhirnya saya mulai terfikir untuk beralih ke sistem operasi lain. Bukan MacOS, tapi sistem operasi berbasis Linux.

Gimana menurut kalian? Apakah kalian juga resah dengan keputusan aneh Microsoft serta tren AI yang semakin gila akhir-akhir ini? Tulis di kolom komentar ya! Mari kita diskusi!

Suka dengan tulisan seperti ini? Dukung saya lewat trakteer.id/renoarifigar


Ingin berkomentar?