Mencetak desain adalah hal yang gampang-gampang susah. Saya katakan begitu karena mentransfer desain digital ke bentuk cetak memerlukan beberapa penyesuaian. Mulai dari resolusi dan ukuran dari desain, profil warna hingga DPI. Dan semua penyesuaian itu terkumpul dalam satu file dengan format yang spesifik.
Dari penjelasan diatas, saya menyoroti masalah kompabilitas file yang ingin kita cetak dari perangkat kita ke komputer dan mesin percetakan. ini jadi perhatian saya karena selama SMK, Kuliah hingga saat ini, saya beberapa kali mengalami masalah pada hasil cetak yang saya terima. Yang sering terjadi adalah warna cetakan yang tidak sesuai desain dan hasil cetak yang pecah dan stretched.
Pada akhirnya, saya coba konfirmasi ke salah satu pegawai percetakan. Saya mendapat solusi yang cukup manjur, yaitu pastikan untuk menggunakan format file yang punya kompabilitas tinggi saat menyerahkan file. Beberapa diantaranya adalah : JPEG, EPS, Format Mentah (.PSD, .AI, .CDR) dan .PDF.
Pada artikel kali ini, saya akan coba jelaskan kenapa hasil cetakan bisa jadi lebih baik kalau pakai format-format file yang saya sebutkan diatas.
Baca Juga : Apa itu Color Gamut & Color Profile? Apa Fungsinya? (sRGB, Adobe RGB, NTSC & DCI-P3)
Format File untuk Cetak Desain
1. JPG / JPEG

Joint Photographic Experts Group (JPEG) atau JPG adalah format file gambar paling umum di dunia. Format ini memiliki ukuran file yang relatif kecil karena menggunakan sistem kompresi lossy. Sistem ini membuat file gambar akan mengalami penuruan kualitas ketika disimpan atau diedit secara berulang.
Oleh karena itu, jika kalian ingin mencetak file gambar atau foto yang berformat JPEG atau JPG, pastikan file tersebut memiliki DPI yang tinggi (umumnya 300 DPI). Ini penting agar hasil cetaknya tajam. Selain itu, pastikan file memiliki color profile sRGB. Ini penting agar mesin cetak dapat membaca color profile tersebut dan menghasilkan warna yang akurat sesuai editan kalian.
2. EPS

Encapsulated PostScript (EPS) adalah format untuk file grafis vektor. Keunggulan format ini adalah desain yang kita buat tidak akan rusak dan akan selalu tajam. Ya! .EPS memberi kita keleluasaan dalam memperbesar ukuran desain kita berkali-kali lipat tanpa ada penuruan kualitas. Hal ini memungkinkan karena data yang disimpan berupa kumpulan skrip vektor. Bukan bitmap seperti pada format file gambar JPG dan PNG.
Dan sesuai dengan namanya, format .EPS dirancang untuk desain vektor. Sehingga, format ini tidak cocok kalau digunakan untuk mencetak foto.
Baca Juga : Nilesoft Shell, Alternatif Menu Klik Kanan Windows 11 yang Lebih Familiar
3. Format Mentah (.PSD, .AI, .CDR)

Aplikasi editor bitmap dan vector umumnya memiliki format file sendiri. Contohnya seperti Photoshop .PSD, Illustrator dengan .AI dan CorelDRAW dengan format .CDR. Jika kalian ingin mencetak desain poster, banner atau brosur, format file ini dapat bisa jadi opsi yang tepat agar desain yang sudah kalian buat tidak pecah saat dicetak.
Untuk format mentah seperti ini, Document Setup menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Karena pengaturan yang kalian buat disana akan mempengaruhi hasil cetakan. Resolusi, DPI dan Color Profile harus diatur sesuai dengan kebutuhan hasil cetak agar hasilnya tajam dan akurat.
Bila kalian menggunakan format mentah, saya sarankan untuk konfirmasi ke percetakan terlebih dahulu. Apakah mereka memiliki aplikasi yang dapat membuka format yang kalian bawa? Bila bisa, maka aman. Dari pengalaman saya, mayoritas percetakan yang pernah saya kunjungi menggunakan CorelDRAW untuk membuat desain dan memproses desain yang akan dicetak.
4. PDF

Portable Document Format (PDF), sebuah format dokumen yang sangat popular untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari dokumen formal, ebook hingga untuk kebutuhan cetak. Format PDF dapat sangat fleksibel karena kemampuannya dalam menyimpan banyak informasi. Mulai dari metode kompresi data, enkripsi keamanan, signature, metadata hingga color profile.
Oleh karena itu, format PDF menjadi salah satu format file paling tepat untuk desain yang ingin kalian cetak. Saat export desain, kalian dapat menyematkan ICC Profile yang kalian pakai serta mengatur DPI-nya. Hal ini dapat menjamin desain kalian dapat tercetak sesuai dengan yang kalian inginkan.
Format ini sangat cocok untuk berbagai kebutuhan cetak desain ke bentuk poster, pamflet, majalah, flyer dan banner. Untuk kalian yang ingin
Baca Juga : Berbagai Alternatif untuk Aplikasi Berbayar di Windows (Office, Adobe, dsb)
Catatan
- Warna hasil cetak akan akurat sesuai yang tampil di layar monitor apabila color profile yang kalian sematkan ke file cetak sesuai dengan color profile dari monitor. Untuk mendapatkan detail warna yang memuaskan, monitor dengan akurasi warna color gamut 100% sRGB sudah sangat cukup.
- Menggunakan format warna CMYK akan menghasilkan warna yang lebih akurat ke hasil cetak. Kalian bisa utak atik sampai mendapatkan hasil yang pas sesuai yang kalian inginkan. Kalian bisa coba cetak desain kalian dengan printer rumahan sebelum mencetaknya ke percetakan.
- Resolusi file cetak dan pengaturan DPI akan mempengaruhi ketajaman dari hasil cetak. Pastikan kalian mengatur resolusi dan DPI sesuai dengan kebutuhan cetak. Gunakan unit Milimeter (mm) atau Centimeter (cm) untuk membantu mendapatkan ukuran yang pas. Mengatur DPI ke 300 saya rasa sudah sangat cukup untuk hasil tajam pada kebutuhan cetak yang umum.
- Untuk hasil yang lebih maksimal, silahkan langsung berkomunikasi dengan pihak percetakan ya!
Baca Juga : Mengenal Solid-State Drive (SSD), Pengganti Hard Disk yang Jauh Lebih Cepat
Sekian pembahasan format file yang umum digunakan untuk percetakan. Dari pengalaman pribadi saya, format .JPG / .JPEG dan .PDF merupakan format yang paling aman untuk berbagai kebutuhan cetak. Selain format file, pengaturan lain seperti resolusi, DPI dan Color Profile harus sesuai agar hasil cetak dapat tajam, akurat dan maskimal.
Dukung blog ini dengan kirim dukungan lewat https://trakteer.id/renoarifigar.

